
Minggu, 19 Oktober 2025
Rimbo Bujang (MIN 4 TEBO) – Di halaman MIN 4 Tebo, suasana istirahat pagi akhir-akhir ini kerap diwarnai denting kelereng yang beradu dan tawa riang anak-anak laki-laki yang asyik bermain di bawah pohon rindang. Setelah tren gasing penghapus mereda, kelereng—salah satu permainan tradisional paling ikonik—kembali populer di kalangan siswa. Alih-alih melarang, madrasah justru menyambut gembira kebangkitan permainan ini, terutama karena ia menjadi alternatif sehat dari ketergantungan pada gawai.
Permainan kelereng, yang membutuhkan ketelitian, strategi, dan kejujuran dalam bermain, dinilai memiliki nilai edukatif yang tinggi. Anak-anak belajar menghitung, memperkirakan jarak, mengatur giliran, dan menerima kekalahan dengan sportif—semua dalam bentuk aktivitas fisik yang melibatkan interaksi langsung. Di tengah kekhawatiran global tentang minimnya aktivitas luar ruang dan meningkatnya screen time pada anak, kehadiran kembali permainan seperti kelereng dianggap sebagai angin segar bagi perkembangan sosial dan motorik siswa.
MIN 4 Tebo tidak melarang permainan ini selama dilakukan pada waktu yang tepat—yakni saat jam istirahat atau sebelum pulang. Justru, guru-guru memanfaatkan momentum ini untuk mengingatkan pentingnya batasan: bermain boleh, asal tidak mengganggu proses belajar. Tidak ada larangan keras terhadap mainan tradisional; yang diatur hanyalah konteks dan waktunya. Sikap ini mencerminkan pendekatan yang seimbang: menghargai budaya bermain anak sekaligus menjaga fokus akademik.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa minat anak terhadap permainan tradisional belum punah—hanya menunggu kesempatan untuk kembali muncul. Dengan dukungan lingkungan yang kondusif, seperti halaman madrasah yang aman dan waktu istirahat yang cukup, anak-anak secara alami memilih bermain bersama. Bagi MIN 4 Tebo, ini adalah bukti bahwa pendidikan karakter juga bisa tumbuh dari halaman bermain, bukan hanya dari ruang kelas.
Dengan membiarkan kelereng bergulir di tanah lapang, MIN 4 Tebo tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga melindungi masa kecil anak-anak dari serbuan digital yang tak henti. Bukan soal menolak teknologi, melainkan memastikan bahwa anak tetap punya ruang untuk berlari, tertawa, dan belajar dari teman sebayanya—satu tembakan kelereng pada satu waktu.
*Bass
|
48x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...