
Senin, 20 Oktober 2025
Rimbo Bujang (MIN 4 TEBO) – Di sela-sela istirahat dan menjelang waktu pulang, sejumlah siswa MIN 4 Tebo terlihat duduk berkelompok di bawah pohon rindang atau di teras kelas, tidak bermain atau berlarian seperti biasa, melainkan asyik membaca dan mendiskusikan isi buku saku Pramuka. Meski tidak terpilih sebagai kontingen resmi yang dipersiapkan mengikuti Jambore Ranting, semangat kepramukaan mereka tetap menyala.
Buku saku Pramuka, yang berisi Dasa Darma, Tri Satya, tanda-tanda jejak, simpul dasar, hingga pengetahuan alam terbuka, menjadi bacaan pilihan mereka di waktu luang. Tidak ada yang memaksa; mereka membawanya sendiri dari rumah, menyelipkannya di tas, lalu mengeluarkannya begitu bel istirahat berbunyi. Dalam kelompok kecil mereka saling bertanya, menguji hafalan, atau mencoba menggambar tanda sandi di buku catatan.
Antusiasme ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kepramukaan di MIN 4 Tebo tidak hanya hidup saat latihan mingguan, tetapi telah menyusup ke dalam keseharian siswa. Bagi mereka, Pramuka bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan cara berpikir dan bersikap—tentang kemandirian, kepedulian, dan kesiapsiagaan. Bahkan tanpa seragam cokelat, semangat itu tetap terlihat.
Guru pembina Pramuka tidak mengejar jumlah kontingen, melainkan kedalaman pemahaman. Mereka justru bangga melihat siswa yang tidak terpilih tetap aktif belajar secara mandiri. Ini membuktikan bahwa pendidikan karakter melalui Pramuka berhasil menjangkau lebih dari sekadar peserta lomba—ia menyentuh hati anak-anak yang memilih untuk terus belajar, meski tanpa sorotan panggung.
Di balik buku saku yang lusuh dan coretan pensil di pinggir halaman, terdapat benih kepemimpinan yang tumbuh diam-diam. Dan bagi MIN 4 Tebo, itulah ukuran keberhasilan sejati: bukan berapa banyak piala yang dibawa pulang, tetapi berapa banyak anak yang tetap membuka buku—meski hanya buku saku—karena ingin tahu, ingin belajar, dan ingin menjadi lebih baik.
*Bass
|
54x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...