
Sabtu, 14 Februari 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Suasana seru dan sedikit menegangkan mewarnai pembelajaran Pendidikan Pancasila di Kelas 3B, Rabu (11/2) lalu. Dengan metode pembagian tugas hafalan dan tantangan menyusun puzzle huruf, siswa diajak mengenal bahasa daerah mayoritas dari 38 provinsi di Indonesia. Momen yang paling menarik adalah ketika beberapa siswa berinisiatif menghafal di luar bagiannya, menunjukkan semangat gotong royong dan tanggung jawab yang tinggi.
Pembelajaran diawali dengan penjelasan guru tentang kekayaan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas bangsa. Setelah dirasa cukup, siswa kemudian dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing beranggotakan 5 hingga 6 orang. Setiap anggota kelompok mendapat tanggung jawab pribadi: menghafalkan 7 hingga 8 nama bahasa daerah beserta provinsinya dari total 38 provinsi yang ada. Pembagian ini dilakukan agar setiap siswa memiliki beban yang merata dan dapat berkontribusi maksimal bagi kelompoknya.
Setelah waktu yang diberikan dirasa cukup untuk menghafal, tibalah babak tantangan. Setiap kelompok akan mendapat lima pertanyaan yang dirancang khusus mewakili bagian hafalan setiap anggotanya. Keunikan terletak pada cara menjawab: bukan dengan lisan atau tulisan, melainkan dengan menyusun puzzle potongan huruf hingga membentuk nama bahasa daerah yang benar. Misalnya, untuk pertanyaan "Jawa Barat", siswa harus menyusun huruf S-U-N-D-A secara berurutan. Metode ini menambah tingkat kesulitan sekaligus keseruan, karena siswa tidak hanya harus hafal, tetapi juga cermat merangkai huruf.
Suasana kelas berlangsung hidup. Ada ketegangan ketika satu kelompok berlomba menyusun huruf lebih cepat dari kelompok lain. Ada juga sorak-sorai kecil saat sebuah jawaban berhasil ditempelkan dengan benar. Setiap anggota kelompok tampak fokus pada bagiannya masing-masing, karena mereka tahu bahwa kegagalan menjawab bisa menghambat poin kelompok. Tanggung jawab individu benar-benar diuji dalam permainan ini.
Yang menarik perhatian guru adalah munculnya inisiatif dari beberapa siswa. Mereka yang merasa mampu ternyata tidak puas hanya menghafal bagiannya sendiri. Diam-diam, mereka juga mempelajari hafalan teman sekelompoknya. Ketika tiba giliran temannya yang kesulitan, mereka sigap membantu, meskipun sebenarnya bukan bagian tanggung jawab mereka. Guru tidak membatasi inisiatif ini, sebaliknya memberikan apresiasi karena siswa tersebut telah menunjukkan kemauan belajar lebih dan semangat menolong.
Pembelajaran yang mengombinasikan hafalan, tanggung jawab individu, dan permainan kooperatif ini tidak hanya memperkenalkan kekayaan bahasa daerah, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai gotong royong dan inisiatif positif di kalangan siswa.
*Bass
|
290x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...