Selamat Datang di Website Resmi MIN 4 TEBO # SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI 4 TEBO # MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI 4 TEBO JALAN SEPAKU DESA JAYA MULYA KECAMATAN RIMBO BUJANG KABUPATEN TEBO KODE POS 37553
Diposting Pada: Rabu, 01 April 2026

Siswa Kelas 5B MIN 4 Tebo Belajar Gotong Royong Lewat Simulasi Panen Raya dan Tanggap Bencana

Siswa Kelas 5B MIN 4 Tebo Belajar Gotong Royong Lewat Simulasi Panen Raya dan Tanggap Bencana

Rabu, 1 April 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Pembelajaran Pendidikan Pancasila di Kelas 5B hari ini berlangsung di luar ruang kelas. Guru mengemas materi tentang lima contoh praktik gotong royong—Kerja Bakti, Tanggap Bencana, Musyawarah, Panen Raya, dan Kerja Kelompok—ke dalam sebuah simulasi bermakna bertema Tanggap Bencana. Berawal dari studi kasus yang memaksa siswa memilih antara panen lebih cepat atau normalisasi sungai, mereka berdebat, bermusyawarah, lalu memutuskan untuk melakukan keduanya sekaligus. Hasilnya, dalam waktu singkat, rumput liar di taman depan kelas tercabut bersih dan selokan di sekitar madrasah bebas dari sampah.

Pembelajaran dimulai dengan guru memaparkan sebuah studi kasus yang dirancang khusus agar siswa dapat mengalami langsung nilai-nilai gotong royong. Guru Puji Basuki membacakan dengan perlahan:

“Komunitas Warga RT 5 memiliki lahan sawah yang dikelola secara bersama-sama. Menurut jadwal, mestinya panen raya dilakukan dalam dua minggu lagi untuk memperoleh hasil maksimal. Namun cuaca akhir-akhir ini tidak bersahabat, sering terjadi hujan badai disertai angin kencang, sementara aliran sungai utama sumber irigasi juga sudah mulai mengalami pendangkalan akibat tumpukan sampah. Untuk menyikapi hal ini, warga diberi dua pilihan: menormalisasi aliran sungai dan irigasi sebelum panen raya, atau mempercepat panen raya agar tidak gagal panen.”

Setelah membacakan, guru menjelaskan clue dari studi kasus tersebut agar siswa bisa menghubungkannya dengan situasi nyata di sekitar mereka. Clue-nya adalah:

· Komunitas Warga RT 5 → Siswa Kelas 5B.
· Sawah → Taman depan kelas.
· Tanaman Padi → Rumput liar yang tumbuh di taman depan kelas.
· Sungai dan irigasi → Selokan di depan dan samping kelas.
· Endapan sungai → Sampah dan lumpur yang menyumbat selokan.

Siswa tampak antusias begitu mendengar bahwa studi kasus ini akan langsung dipraktikkan. Beberapa sudah mulai melirik ke arah taman dan selokan.

Guru kemudian meminta siswa memejamkan mata. “Sekarang, pilih dengan hati-hati. Kalian setuju dengan opsi mana? Panen lebih cepat, atau normalisasi sungai dulu?” Suasana hening sejenak. Tangan pun terangkat. Hasilnya seimbang: separuh kelas mengangkat tangan untuk panen lebih cepat, separuh lainnya untuk menormalisasi sungai lebih dulu.

Dari pilihan itu, siswa dibagi ke dalam dua kelompok besar. Setiap kelompok diminta bermusyawarah untuk menuliskan argumentasi mengapa pilihan mereka lebih tepat. Inilah saat nilai Musyawarah dan Kerja Kelompok mulai hidup. Kelompok 1 (pilih panen dulu) berdiskusi sengit. Kelompok 2 (pilih normalisasi sungai) juga tak kalah seru. Suara diskusi memenuhi ruang kelas, ada yang berdebat, ada yang mencatat, ada pula yang mengajak temannya kompromi.




Setelah waktu diskusi habis, perwakilan kelompok memaparkan hasil musyawarah. Perwakilan Kelompok 1 menyampaikan, “Kami memilih panen lebih dulu. Meskipun hasil belum maksimal karena belum masuk waktunya, ini lebih aman dari risiko gagal panen. Daripada nanti semuanya rusak karena banjir atau angin, mending kita ambil yang sudah ada.” Dari kelompok lawan langsung muncul tanggapan: “Tapi kan padinya belum matang, masak udah dipanen dulu?” Tawa kecil pecah di antara siswa, tapi segera reda karena suasana diskusi tetap serius.

Kelompok 2 kemudian bergantian memaparkan. “Kami memilih normalisasi sungai. Bencana itu kan bisa dicegah. Kalau sungai normal, irigasi lancar, panen tepat waktu hasilnya lebih maksimal. Lagian, kalau sungai tetap tersumbat, bukan cuma panen yang terganggu, tapi juga bisa banjir.” Kelompok 1 balik menanggapi, “Tapi kan bukan cuma banjir, ada angin kencang juga. Kalau padinya roboh, gimana?” Debat berlangsung alot, dan seru. Guru mengamati dari samping, sesekali mengangguk.

Suasana makin hidup ketika tiba-tiba seorang siswa dari Kelompok 1 berdiri dan mengusulkan, “Kita lakukan bersamaan saja, kan warganya banyak.” Ide itu langsung disambut. Kelompok 2 mengangguk. “Iya, kita bagi tugas. Nggak harus milih satu.” Guru tersenyum. Inilah nilai Musyawarah mencapai mufakat: tidak ada yang kalah, semua menang.

Guru kemudian mengajak siswa keluar kelas. “Baik, sekarang kita praktikkan. Kelompok 1 bertugas memanen padi di sawah. Kelompok 2 bertugas menormalisasi sungai.” Clue yang tadi dijelaskan langsung menjadi nyata.

Kelompok 1 berlari ke taman depan kelas. Tugas mereka: sebelum bel istirahat berbunyi, seluruh “padi” (rumput liar) harus tercabut bersih dan tertumpuk di tempat yang ditentukan. Mereka bekerja dengan semangat, mencabut rerumputan dengan tangan. Nilai Panen Raya yang biasanya identik dengan sukacita hasil panen, kali ini mereka rasakan sebagai kebersamaan dalam bekerja keras.


Kelompok 2 bergerak ke selokan di depan dan samping kelas. Mereka membawa ember, sapu, dan cangkul kecil. Sampah plastik, lumpur, dan dedaunan yang menyumbat dikeluarkan sedikit demi sedikit. Nilai Tanggap Bencana dan Kerja Bakti terlihat jelas: mereka tidak menunggu bencana terjadi, tapi mencegahnya dengan kerja kolektif.

Guru berkeliling, sesekali membantu dan memberi semangat. “Jangan lupa, kerja sama, ya. Yang di selokan jangan sampai ketinggalan.”

Tak terasa bel istirahat berbunyi. Tepat pada waktunya, rumput di taman depan kelas sudah bersih. Tumpukan rumput teronggok rapi di sudut. Selokan pun tak kalah bersih, tidak ada sampah yang tersisa. Semua tugas selesai. Siswa bertepuk tangan, tangan mereka kotor oleh tanah, tapi penuh kebanggaan.

Di akhir kegiatan, guru meminta siswa berdiri melingkar di teras kelas. Guru kemudian mengajak mereka menyebutkan nilai-nilai yang mereka praktikkan tadi: musyawarah, kerja sama, tanggap bencana, kerja bakti, dan panen raya. “Ini bukan sekadar pelajaran,” kata guru. “Ini adalah cara kita hidup berdampingan. Kalian tadi sudah merasakan sendiri, bekerja bersama jauh lebih ringan, dan hasilnya bisa dinikmati bersama.”

*Bass

 


106x
Dibaca
.

Berita Lainnya:

  1. Pembagian Rapor di MIN 4 Tebo, Apresiasi Juara dengan Hadiah Tiket Wisata 361x dibaca
  2. Mahasiswa PPLK Pandu Lomba Hiburan Meriahkan HUT RI di MIN 4 Tebo 54x dibaca
  3. Surat untuk Pak Guru, Cara Sederhana Siswa Kelas 5B MIN 4 Tebo Belajar Menulis dan Mengungkapkan Perasaan 45x dibaca
  4. TC Keenam Jamcab: Kolaborasi Guru MIN 4 Tebo dan Orang Tua Jadi Kunci Kesiapan Siswa Berkompetisi 30x dibaca
  5. Inisiatif Makan Jajan Bersama Siswa 5B MIN 4 Tebo Jadi Contoh Nyata Kebiasaan Positif yang Tumbuh Secara Alami 75x dibaca

Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MIN 4 TEBO

Mars Madrasah