
Sabtu, 11 April 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Keheningan menyelimuti kelas 5B pagi ini. Para siswa fokus menggambar motif Batik Kawung di buku gambar dengan aturan yang cukup ketat, dimana guru mewajibkan mereka menggambar dominan menggunakan penggaris. Dimulai dari membuat kotak-kotak berukuran 3x3 cm sebanyak mungkin di halaman buku gambar. Siswa dibimbing dari awal bagaimana menentukan ukuran yang pas, mulai dari menandai titik setiap 3 cm ke kanan dan ke bawah, lalu menarik garis. Dua jam pelajaran ternyata tidak cukup, tetapi dari sana guru mulai melihat bahwa masih banyak siswa yang belum benar-benar bisa menggunakan penggaris secara efektif.
Pembelajaran Seni Rupa kali ini siswa belajar ragam hias geometris dengan Batik Kawung sebagai salah satu contohnya. Salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki filosofi mendalam. Guru memulai dengan memperlihatkan contoh motif Kawung yang khas dengan bentuk bulatan-bulatan yang tersusun rapi. Namun, sebelum sampai ke bentuk lengkung yang indah, siswa harus menguasai dasar: membuat kotak-kotak berukuran 3x3 cm di seluruh halaman buku gambar.
Guru membimbing siswa langkah demi langkah. Pertama, siswa diminta menandai titik-titik pada tepi atas dan tepi kiri kertas setiap jarak 3 cm menggunakan penggaris. “Pastikan kalian mulai dari angka nol, bukan dari satu,” ujar guru berulang kali. Setelah semua titik terpenuhi, barulah mereka menarik garis lurus menghubungkan titik-titik tersebut, membentuk kisi-kisi kotak.
Proses ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Guru menemukan bahwa masih banyak siswa yang belum benar-benar bisa menggunakan penggaris secara efektif. Ada yang asal menarik garis lurus tanpa memperhatikan angka atau posisi atas dan bawah. Ada yang sebenarnya tepat memulai titik dari 0, tetapi berhenti di 4 cm karena mengira hitungan 3 cm dimulai dari 1 cm. Tidak sedikit siswa yang diminta mengulang berkali-kali membuat garis karena hasilnya miring atau tidak presisi.
“Kalau garis kotaknya saja sudah salah, nanti pola Kawungnya tidak akan rapi,” jelas guru sambil berkeliling membantu satu per satu. Guru menunjukkan cara memegang penggaris dengan tangan kiri agar tidak bergeser, lalu menarik garis dari kiri ke kanan dengan pensil yang runcing. Beberapa siswa yang sudah mahir kemudian membantu teman sebangkunya.

Setelah semua kisi-kisi kotak selesai, langkah berikutnya adalah membuat garis diagonal ke kanan dan ke kiri pada setiap kotak. Ini menambah tingkat kesulitan. Siswa harus memastikan garis diagonal tepat menyentuh sudut-sudut kotak. Barulah ketika pola dasar sudah terbentuk, siswa mulai menggunakan benda bundar seperti koin, tutup botol, atau jangka sederhana untuk membentuk lengkungan halus dan presisi sehingga tercipta motif Batik Kawung yang indah.

Dua jam pelajaran berlalu, belum ada satu pun siswa yang berhasil menyelesaikan satu halaman penuh. Namun, dari sebagian siswa yang sudah berhasil membentuk pola motif Batik Kawung seperempat halaman, guru sudah bisa melihat hasil yang cukup memuaskan. “Yang penting kalian mengerti prosesnya. Nanti kita lanjutkan pertemuan berikutnya,” ujar guru.
Secara umum, guru cukup puas karena anak-anak mulai bisa menggunakan penggaris dengan lebih baik. Meskipun belum sempurna, mereka belajar bahwa kesabaran dan ketelitian adalah kunci untuk menghasilkan karya yang indah. Kegiatan akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya hingga semua siswa berhasil menyelesaikan motif Batik Kawung di buku gambar masing-masing.
*Bass
|
103x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...