
Jumat, 17 April 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas 5B hari ini kembali diisi dengan permainan yang mengasah kerjasama. Guru membagi siswa menjadi dua kelompok besar. Setiap kelompok membentuk lingkaran dan dihubungkan dengan sebuah pena yang diletakkan di ujung jari telunjuk masing-masing anggota. Aturannya sederhana, pena tidak boleh terlepas atau terjatuh selama permainan. Namun, dari sinilah dinamika menarik terjadi. Mulai dari kesulitan koordinasi, kekesalan antar anggota, hingga provokasi antarkelompok.
Awalnya permainan dilaksanakan di dalam ruang kelas. Namun karena ruang yang terbatas, siswa tidak bisa bergerak leluasa. Kegiatan pun dipindahkan ke belakang kelas, tepatnya di lapangan bulutangkis. Di sana, guru mengajak siswa berkompetisi balapan dari satu titik ke titik lain yang telah diberi penanda.

Pada tahap awal, kedua kelompok masih berjalan kondusif meskipun beberapa kali melakukan kesalahan. Pena terjatuh, mereka tertawa, lalu memasang kembali dan melanjutkan balapan. Suasana terasa santai dan menyenangkan. Namun, dinamika mulai berubah ketika salah satu anggota kelompok terlalu sering menjatuhkan pena. Anggota lain mulai menganggapnya tidak serius atau main-main. Kekesalan pun muncul.
“Udahlah, jangan ajak main dia, Pak. Nggak serius dia itu,” ujar seorang siswa dengan nada kesal. Kelompok lawan yang mendengar kemudian memprovokasi, membuat suasana semakin panas. Guru yang melihat situasi tidak langsung bereaksi berlebihan. Ia menunda sejenak permainan, lalu mencoba memberikan alternatif strategi.
“Coba pindah posisinya. Mungkin karena pena yang dipakai sakit di jari,” usul guru. Ia juga menyarankan mengganti pena dengan yang bertutup agar tidak menusuk. “Coba lebih tenang, ini fokusnya kerjasama, bukan siapa yang cepat,” tambahnya.
Permainan dilanjutkan. Kali ini, kelompok yang tadinya sempat gaduh justru mulai menguasai strategi. Mereka berhasil bekerja sama lebih baik dan mengalahkan kelompok lawan. Namun, kemenangan itu membuat kelompok yang tadinya diprovokasi kini balik memprovokasi. Suasana kembali memanas.
Guru kemudian mengubah konsep permainan. Kedua kelompok dilebur menjadi satu lingkaran besar. Bukan lagi balapan, mereka hanya perlu mendengarkan instruksi satu per satu, mulai dari geser ke barat, memutar searah jarum jam, geser ke utara, dan seterusnya.
Di awal, mereka benar-benar kesulitan. Bukan satu atau dua pena yang terlepas, tetapi lebih dari itu. Makin banyak anggota, makin berat koordinasinya. Namun, perlahan mereka mulai bersabar. Tangan mulai pegal, tetapi mereka terus mencoba. Akhirnya, seluruh tantangan berhasil diselesaikan.
Setelah permainan usai, kegiatan dilanjutkan di kelas dengan sesi refleksi. Guru meminta pendapat siswa tentang permainan tadi. Meskipun masih ada satu orang yang secara terbuka mengatakan belum terima kekalahan karena menganggap teman sekelompoknya sebagai penyebab, teman-teman lainnya segera meluruskan.
Mereka menyadari bahwa dalam kerjasama, tidak boleh saling menyalahkan. Nilai-nilai yang berhasil mereka petik antara lain, pentingnya kesabaran, komunikasi yang baik, saling memaafkan, dan menerima kekalahan dengan lapang dada.
Permainan pena bersambung ini tidak hanya melatih fisik, tetapi juga emosi dan kerjasama. Siswa belajar bahwa konflik adalah hal yang wajar dalam sebuah tim, yang terpenting adalah bagaimana menyelesaikannya dengan kepala dingin. Guru tidak perlu memarahi, cukup memberikan ruang bagi siswa untuk menemukan sendiri solusinya.
*Bass
|
87x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...