
Rabu, 13 Mei 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 5B kali ini mengajarkan materi pantun. Siswa seringkali merasa kesulitan karena aturan yang cukup ketat seperti terdiri dari empat baris, baris pertama dan kedua sebagai sampiran harus berkaitan, baris ketiga dan keempat sebagai isi juga harus berkaitan, suku kata antara 8 sampai 12, serta rima yang diatur a-a-a-a atau a-b-a-b. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, guru mengambil langkah awal dengan mengajak siswa menuliskan sebanyak mungkin kata benda dan kata sifat di papan tulis yang memiliki akhiran tertentu, seperti -an, -at, atau -in.
Guru memulai dengan meminta siswa menyebutkan kata-kata yang berakhiran sama. Secara bergantian, siswa maju ke papan tulis dan menuliskan kata seperti "tampan", "sampan " "main", "taman", "bermain", "terjamin", "rakyat", "dermawan", dan sebagainya. Setelah papan tulis penuh dengan kumpulan kata, guru mengajak siswa memilih beberapa kata yang memiliki makna berkaitan. Dari situlah mereka mulai merangkai menjadi pantun.
Dengan metode ini, dalam tiga kali percobaan bersama di papan tulis, seluruh siswa mulai mampu membuat pantun secara mandiri. Guru hanya membimbing pada bagian tertentu, misalnya ketika siswa kesulitan menyambungkan baris sampiran dengan isi atau mengatur jumlah suku kata. Contoh pantun yang berhasil dirangkai bersama di papan tulis antara lain:
Pergi ke pasar membeli kain,
Pulangnya mampir ke taman bermain,
Belajarlah dengan rajin,
Agar masa depan terjamin.
Selain itu, dua contoh lainnya juga dituliskan sebagai acuan.
Suasana kelas menjadi lebih hidup karena siswa tidak lagi merasa terbebani aturan. Mereka lebih dulu fokus pada bunyi akhir kata yang sama, baru kemudian memikirkan makna. Guru menjelaskan bahwa pantun sebenarnya bisa dimulai dari mencari kata-kata yang bersajak terlebih dahulu, baru menyusun kalimat. Cara ini terbukti ampuh untuk mengurangi rasa frustasi siswa yang biasanya langsung diminta membuat pantun dari nol.
Setelah sesi latihan bersama, siswa diminta membuat satu pantun sendiri di buku tulis. Hasilnya beragam, ada yang lucu, ada yang berisi nasihat, ada pula yang masih sedikit kaku. Guru berkeliling memberi catatan perbaikan, seperti mengganti kata yang tidak pas atau menyesuaikan jumlah suku kata. Sebagian besar siswa berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu.
Pembelajaran pantun kali ini berlangsung lebih menyenangkan karena siswa tidak langsung dipaksa menghasilkan karya sempurna. Metode bertahap dari mengumpulkan kata berakhiran sama hingga merangkai menjadi pantun membantu siswa memahami struktur tanpa tekanan. Guru berencana menggunakan pendekatan serupa untuk materi menulis puisi.
*Bass
|
82x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...