
Minggu, 17 Mei 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Suasana kelas 5B pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Sabtu (16/5) lalu, berubah menjadi panggung lawak. Setelah beberapa kali percobaan membuat pantun secara bersama-sama, guru memberikan tantangan baru, yaitu setiap siswa diminta membuat sebuah pantun jenaka yang ditujukan kepada salah satu teman. Pantun boleh berdasarkan keadaan sesungguhnya atau sekadar mengada-ada. Dengan bimbingan intensif, siswa mampu menghasilkan pantun-pantun unik yang membuat seluruh kelas tertawa lepas.
Guru sengaja memilih tema pantun jenaka agar siswa tidak tegang. Mereka tetap harus mematuhi kaidah: empat baris, sampiran dan isi yang berkaitan, suku kata 8-12, serta rima yang sesuai. Namun, kebebasan untuk mengejek teman secara halus membuat kreativitas mereka meledak. Siswa duduk di lantai saling berhadapan, lalu bergantian membacakan pantun kreasi mereka.
Salah satu pantun yang paling mengocok perut berbunyi: "Pergi ke pasar membeli sayur paku, pulangnya mampir ke toko buku. Kamu memang lebih tua dari aku, tapi kamu tidak setinggi aku." Pantun ini ditujukan kepada seorang teman yang memang lebih tua namun posturnya lebih rendah. Tanpa bermaksud menyakiti, semua tertawa karena disampaikan dengan gaya lucu. Pantun lainnya: "Ke rumah nenek membawa beras, pulangnya dibawakan nanas. Kuakui gayamu memang keras, tapi ingat hutangmu belum lunas."
Proses pembuatan pantun tidak serta merta mudah. Guru berkeliling membantu siswa yang kesulitan merangkai kata. Beberapa siswa awalnya buntu, tetapi setelah diberi contoh dan stimulus, mereka mulai menemukan ritme. Guru juga mengingatkan agar pantun tidak mengandung ujaran kebencian atau bullying. Kritik yang disampaikan harus dalam batas wajar dan tetap menghibur. Semua siswa mematuhi aturan tersebut.
Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan bersastra, tetapi juga membangun keakraban antar siswa. Tidak ada yang marah atau tersinggung. Justru, pantun yang ditujukan kepada mereka menjadi bahan tawa bersama. Guru memanfaatkan momen ini untuk mengajarkan bahwa humor yang sehat dapat mempererat persahabatan. Siswa mengaku senang karena belajar pantun tidak membosankan.
Berbalas pantun jenaka di kelas 5B membuktikan bahwa pelajaran Bahasa Indonesia bisa dikemas secara menyenangkan. Kreativitas siswa terasah tanpa tekanan. Tawa yang pecah di ruang kelas menjadi penanda bahwa mereka tidak hanya menghafal aturan, tetapi benar-benar menikmati proses belajar.
*Bass
|
22x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...