
KEMENAG, MIN 4 TEBO — Profesi guru seringkali diukur dari berapa jam ia berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, lalu menutup buku. Namun di MIN 4 Tebo, hampir tidak berlaku. Di madrasah ini, para pendidik telah lama membuktikan bahwa tugas mereka jauh melampaui batas jam pelajaran dan dinding kelas.
Siang hari, ketika siswa lain sudah pulang, masih tampak beberapa guru duduk bersama anak yang memerlukan perhatian lebih. Ada yang membimbing membaca, ada yang mengulang pelajaran dengan cara lebih santai, ada pula yang sekadar mendengarkan cerita. Semua dilakukan tanpa surat tugas, tanpa presensi, tanpa tuntutan administratif. Hanya ada kesadaran bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk memahami pelajaran.
Malam harinya, di grup-grup kelas, kehadiran guru masih terasa. Mereka mengingatkan jadwal kegiatan esok hari, memberi apresiasi atas tugas yang dikumpulkan, atau sekadar menanyakan kabar siswa yang siangnya tampak kurang sehat.
Di akhir pekan, dedikasi itu tidak luntur. Menemani siswa latihan pramuka, mendampingi marching band menyelaraskan nada, atau sekadar menyiapkan keperluan kelas untuk pekan depan, semua dikerjakan dengan sukarela. Tidak ada keluhan, karena bagi mereka, mendidik adalah panggilan yang tidak mengenal hari libur.
MIN 4 Tebo tidak ada anggaran khusus untuk membayar semua jam tambahan itu. Tetapi para gurunya telah dibayar lunas oleh sesuatu yang lebih berharga: senyum siswa yang akhirnya bisa membaca, rasa percaya diri anak yang tadinya pemalu, dan doa-doa tulus dari orang tua yang merasa terbantu.
Semoga dedikasi para pendidik di MIN 4 Tebo ini terus menjadi cahaya yang menerangi jalan siswa menuju masa depan. Madrasah bukan hanya tempat belajar, tetapi rumah kedua yang dihidupi oleh cinta para gurunya.
*Bass
|
34x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...