
Sabtu, 18 Oktober 2025
Rimbo Bujang (MIN 4 TEBO) – Di tengah maraknya akses internet di kalangan anak usia sekolah, guru kelas 5B MIN 4 Tebo, Puji Basuki, mengambil langkah proaktif dengan mengajarkan penggunaan internet secara bijak melalui praktik langsung. Alih-alih hanya memperingatkan bahaya, siswa diajak memanfaatkan sisi positif internet—salah satunya melalui simulasi belanja daring di platform resmi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan lil ‘Alamin (P5RA) dengan tema “Mendesain Kelas Literat”.
Dalam sesi yang berlangsung Sabtu pagi, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan teoretis, tetapi langsung mempraktikkan cara mencari, memilih, dan mengevaluasi barang kebutuhan kelas melalui situs jual beli daring terpercaya. Ketua kelas duduk di depan laptop sebagai operator, sementara teman-temannya berkerumun memberikan masukan dan menyepakati jenis barang yang akan dibeli—mulai dari alat tulis, buku bacaan, hingga dekorasi kelas. Setiap keputusan diambil secara musyawarah, melatih kemampuan kolaborasi dan literasi informasi.
Guru menekankan pentingnya memverifikasi keaslian toko, membaca ulasan pembeli, membandingkan harga, serta memahami proses transaksi yang aman. Ini menjadi bekal awal agar siswa tidak mudah tertipu atau terpapar konten tidak sesuai usia. Dengan mengalihkan fokus pada manfaat konkret internet, seperti efisiensi, akses informasi, dan transparansi harga, siswa belajar bahwa teknologi bukan ancaman—melainkan alat yang berguna jika digunakan dengan pengetahuan dan tanggung jawab.
Simulasi ini juga memperkuat pemahaman tentang konsumsi cerdas dan perencanaan anggaran sederhana. Barang yang masuk keranjang belanja tidak langsung dibeli; guru memeriksa ulang pilihan tersebut, memastikan relevansi, kebutuhan nyata, dan kesesuaian anggaran kelas. Proses ini melibatkan pertimbangan logis, bukan sekadar keinginan impulsif—sebuah latihan dini dalam pengambilan keputusan finansial yang bertanggung jawab.
Melalui pendekatan ini, MIN 4 Tebo tidak hanya mencegah penyalahgunaan internet, tetapi juga membentuk generasi yang melek digital sekaligus kritis. Literasi digital bukan hanya soal bisa mengoperasikan perangkat, tapi memahami konteks, risiko, dan nilai di balik setiap klik. Dengan mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran bermakna seperti pengadaan barang kelas, sekolah menunjukkan bahwa pendidikan karakter di era digital harus dimulai dari praktik nyata, bukan hanya larangan.
*Bass
|
62x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...