
Minggu, 29 Maret 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Idul Fitri telah berlalu, tetapi Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan agar nilai-nilai Ramadan tidak ikut sirna bersama berakhirnya bulan suci. Dalam program Memaknai Lebaran Bersama Menag yang disiarkan Berita Satu, Sabtu (21/3), ia menekankan bahwa keberhasilan Ramadan diukur dari konsistensi perilaku setelahnya, bukan sekadar ibadah selama satu bulan. Pesan ini mendapat resonasi di MIN 4 Tebo, yang sejak awal telah membiasakan siswa dengan program Ramadhan Berbakti dan pembiasaan tadarus pagi.
Menteri Agama menyatakan bahwa Ramadan adalah proses pembentukan karakter yang mencakup penguatan nilai kejujuran, keadilan, kebersamaan, dan toleransi. “Yang paling penting, nilai-nilai Ramadan itu harus dipatrikan dalam diri kita. Kejujuran, keadilan, kebersamaan, toleransi, dan sifat-sifat keutamaan yang lainnya, jangan sampai nanti lewat Ramadhan kita kembali kambuh lagi. Nilai-nilai itu harus dipatrikan dalam diri kita,” ujar Nasaruddin.
Bagi MIN 4 Tebo, pesan ini bukan sekadar seremonial. Selama Ramadhan, siswa dibiasakan dengan program Ramadhan Berbakti, di mana mereka membantu orang tua di rumah, berbagi takjil dengan masyarakat, dan menjaga kebersihan lingkungan. Tadarus pagi juga menjadi rutinitas yang tidak pernah terlewat. Kini, tantangan terbesar adalah bagaimana kebiasaan baik ini tidak berhenti ketika bulan puasa usai.
Kepala MIN 4 Tebo, Suhaimi, mengakui bahwa menjaga konsistensi perilaku setelah Ramadhan memang tidak mudah. Namun beberapa strategi telah disiapkan, seperti penguatan pembiasaan shalat Dhuha berjamaah, tadarus Al-Qur’an pagi secara rutin, serta program pembiasaan rutin lainnya yang sudah terjadwal yang melibatkan seluruh siswa.
Menag juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek yang dapat merusak kohesi sosial. “Saya minta persatuan dan kesatuan. Jangan sampai kita terkecoh oleh satu kepentingan sesaat, lalu saling menyikut antar sesama warga bangsa. Itu akan melemahkan sendi-sendi kebangsaan kita,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan tentang “fitrah kebangsaan” yang perlu dipulihkan, Menag menekankan bahwa individualisme harus dihindari. “Saya kira individualisme itu jangan sampai bersarang di hati dan di pikiran setiap anak bangsa. Ini yang menjadi racun. Kalau semua orang mementingkan dirinya sendiri,” tuturnya. Di MIN 4 Tebo, semangat gotong royong terus dipupuk melalui kegiatan kelas berkelompok, kerja bakti, dan tradisi saling membantu antar teman.
Menag optimis bahwa masyarakat yang mampu mempertahankan spirit Ramadan akan menciptakan suasana yang lebih harmonis dan produktif. “Kalau ini kita ikuti perkembangan Ramadan, maka kita akan menjadi produk Ramadan yang sangat sejuk, sangat indah, cerah dan mencerahkan,” kata dia. Bagi MIN 4 Tebo, produk Ramadan yang dimaksud adalah siswa yang tidak hanya pandai beribadah, tetapi juga jujur, peduli, dan mampu hidup berdampingan dengan sesama. Momentum Idulfitri menjadi titik awal, bukan akhir, dari perjalanan panjang menjaga nilai-nilai kebaikan.
*Bass
|
193x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...