
Senin, 30 Maret 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Usai halal bihalal di halaman, suasana di Kelas 5B langsung berganti menjadi riuh oleh games tebak urutan. Guru membagi 17 siswa ke dalam tiga kelompok, lalu memberikan sejumlah perintah yang harus dijawab dengan membentuk formasi fisik. Mulai dari mengurutkan jarak tempuh perjalanan selama lebaran, banyaknya puasa, hingga intensitas tarawih, setiap pertanyaan memicu tawa dan kehebohan. Di akhir permainan, kelompok dengan poin terendah mendapat sanksi menghibur teman-teman dengan bershalawat di depan kelas.
Setelah siswa duduk rapi di kursi masing-masing, guru memulai dengan membagi kelas menjadi tiga kelompok: kelompok 1 berisi 6 orang, kelompok 2 berisi 5 orang, dan kelompok 3 berisi 6 orang. Peraturan permainan dijelaskan, setiap kelompok harus menyusun formasi berdasarkan urutan yang disebutkan, tanpa berdiskusi. Mereka hanya boleh mengandalkan tebakan atau informasi yang telah didapat sebelumnya.
Pertanyaan pertama, “Selama Lebaran, urutkan siapa yang perjalanannya paling jauh hingga yang paling dekat.” Ketiga kelompok langsung bergerak cepat, saling menunjuk dan berebut posisi. Kelompok 3 tampak yakin dengan urutannya, siswa 1 ke Padang, siswa 2 ke Jambi, siswa 3 ke Unit 10 Rimbo Bujang. Urutannya masih benar. Namun ketika siswa 4 ternyata menjawab ke Muara Bungo, tawa pecah. Ternyata Muara Bungo lebih jauh dari Unit 10. Kelompok 1 dan 2 juga tidak luput dari kesalahan. “Untung tadi pagi kami sudah saling cerita, Pak,” celetuk seorang siswa, disambut gelak tawa.
Pertanyaan kedua, “Urutkan dari yang paling banyak puasa hingga yang paling sedikit puasanya.” Kali ini, semua kelompok menjawab dengan tepat. Ternyata mereka telah saling membaca lembar agenda Ramadan Berbakti yang telah diisi selama bulan puasa. Informasi itu menjadi modal penting untuk menjawab dengan benar. Guru mengangguk puas, memberikan poin untuk setiap kelompok.
Pertanyaan ketiga hingga kelima semakin seru. Urutan terbanyak tarawih, hingga urutan terbanyak baju baru. Setiap kali guru melontarkan perintah, kelompok-kelompok itu bergegas membentuk barisan, sesekali salah, lalu tertawa bersama. Di akhir permainan, kelompok 2 memperoleh poin paling sedikit. Konsekuensinya, mereka harus tampil menghibur teman-teman dengan bershalawat di depan kelas. Dengan malu-malu, mereka maju dan melantunkan shalawat, diikuti tepuk tangan dari kelompok lain.
Di sela-sela keseruan, beberapa siswa menyelipkan cerita tentang liburan mereka. “THR saya untuk ditabung semua, Pak,” ujar salah seorang siswa dengan polos. Ada pula yang bercerita tentang pengalaman mudik atau jalan-jalan wisata. Guru mendengarkan sambil sesekali memberikan pujian.
Sementara itu, di kelas lain, suasana tak kalah meriah. Kelas 1A menggelar makan bersama dengan jajanan lebaran yang dibawa masing-masing siswa. Mereka duduk melingkar, berbagi kue dan camilan sambil bercerita. Kelas 3B sibuk membuat video ucapan selamat Idul Fitri yang akan dikirim ke sosial media madrasah. Sedangkan kelas 6 memanfaatkan waktu dengan membahas contoh soal TKA yang akan segera mereka hadapi.
Permainan sederhana di Kelas 5B berhasil membangkitkan semangat belajar dan mempererat hubungan antar siswa. Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini mengajarkan bahwa komunikasi, kejujuran, dan kebersamaan adalah modal penting dalam belajar. Dan ketika ada siswa yang berkata, “Untung tadi pagi kami sudah saling cerita,” itulah bukti bahwa pembelajaran yang paling berkesan sering kali datang dari momen-momen spontan di luar buku teks.
*Bass
|
198x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...