
Selasa, 21 April 2026
Rimbo Bujang (MIN 4 Tebo) - Menjelang bel pulang berbunyi, suasana di kelas 5A berubah menjadi arena latihan bahasa Inggris. Guru mengadakan permainan sederhana: menerjemahkan kosakata bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, khususnya tentang kata sifat (adjective). Aturannya, siswa secara bergantian maju ke depan dengan urutan laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan, dan seterusnya. Yang berhasil menjawab dengan benar langsung diperbolehkan pulang. Yang salah harus mundur ke barisan akhir dan menunggu giliran lagi hingga bisa menjawab benar.
Pembelajaran bahasa Inggris di kelas 5A hari ini fokus pada penguasaan kata sifat. Setelah sesi penjelasan dan latihan bersama, guru Leni Yurmatuti ingin menguji pemahaman siswa dengan cara yang lebih menantang sekaligus menjadi penutup pelajaran. Semua siswa diminta berdiri dan membentuk barisan melingkar. Tas sudah dipunggung, buku sudah dimasukkan. Mereka sudah siap pulang, tetapi harus melewati tantangan terlebih dahulu.
Aturan mainnya disampaikan dengan jelas. Guru akan menyebutkan sebuah kata sifat dalam bahasa Indonesia, misalnya “tinggi”. Siswa yang mendapat giliran harus menyebutkan terjemahan bahasa Inggrisnya, yaitu “tall”. Jika jawaban benar, siswa tersebut langsung diperbolehkan keluar kelas dan pulang. Jika salah, ia harus mundur ke barisan akhir dan menunggu giliran berikutnya. Proses ini berlanjut hingga semua siswa berhasil menjawab dengan benar dan pulang.
Urutan maju ditentukan secara bergantian: laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan. Ini dilakukan agar tidak ada dominasi gender dan semua mendapat kesempatan yang sama. Suasana kelas menjadi tegang namun menyenangkan. Setiap kali guru menyebutkan kata, siswa yang mendapat giliran berpikir keras. Ada yang langsung menjawab dengan cepat, ada yang mengulang-ulang dalam hati sebelum mengucapkannya.
Kata sifat yang diberikan bervariasi, mulai dari yang umum hingga yang sedikit lebih sulit. Setiap kali ada siswa yang menjawab benar, ia berjalan keluar kelas dengan wajah lega. Yang salah harus mundur ke belakang barisan, kadang sambil tersenyum malu, lalu menunggu giliran lagi.
Permainan berlangsung sekitar 10 menit. Pada akhirnya, semua siswa berhasil menjawab dengan benar dan pulang. Beberapa siswa yang tadinya salah berkali-kali akhirnya bisa menjawab setelah mendengar teman-temannya menyebutkan jawaban yang benar. Guru menutup kegiatan dengan pesan singkat: “Belajar itu tidak selalu harus di dalam kelas. Kalian bisa latihan di rumah juga.”
Metode permainan seperti ini tidak hanya menguji hafalan kosakata, tetapi juga melatih keberanian dan kecepatan berpikir. Siswa belajar bahwa kesalahan bukan akhir; mereka bisa memperbaiki dengan mencoba lagi. Dan yang terpenting, mereka bisa pulang dengan perasaan lega karena berhasil melewati tantangan.
*Bass
|
177x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...