
KEMENAG, MIN 4 TEBO - Foto dalam berita madrasah bukan sekadar pelengkap tulisan. Dokumentasi yang tepat dapat membantu pembaca memahami kegiatan, melihat proses yang berlangsung, dan memperoleh gambaran nyata tentang program madrasah. Hal ini menjadi salah satu pembahasan HUMAS LEVEL UP 2 bertajuk “Fotografi Berdampak!” yang diselenggarakan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama melalui PINTAR Kemenag bersama narasumber Ahmad Furqon.
Bagi pengelola website dan media sosial madrasah, fotografi yang baik tidak harus menggunakan kamera profesional. Smartphone pun dapat menghasilkan foto yang layak publikasi jika digunakan dengan teknik yang tepat. Berikut lima hal yang dapat diterapkan oleh humas madrasah.
1. Ambil foto yang menceritakan kegiatan
Pilih momen yang menunjukkan inti kegiatan, bukan hanya peserta yang berbaris atau berkumpul. Saat pembelajaran berlangsung, misalnya, foto guru membimbing murid atau siswa melakukan percobaan akan memberikan gambaran lebih jelas tentang aktivitas belajar.
Sebelum memotret, pikirkan informasi yang ingin disampaikan melalui foto. Dokumentasi sebaiknya membantu menjelaskan siapa yang terlibat, apa yang dilakukan, dan konteks kegiatan.
2. Variasikan sudut pengambilan gambar
Gunakan tiga jenis pengambilan gambar agar dokumentasi tidak monoton:
- Wide shot: menampilkan suasana dan lokasi kegiatan secara keseluruhan.
- Medium shot: memperlihatkan aktivitas utama, seperti guru mengajar atau siswa berdiskusi.
- Close-up: menampilkan detail penting, seperti hasil karya atau objek yang sedang digunakan.
Variasi ini memudahkan humas memilih foto utama dan foto pendukung saat menyusun berita.
3. Optimalkan kamera smartphone
Aktifkan garis bantu (grid) untuk membantu mengatur komposisi. Perhatikan pencahayaan agar wajah dan objek terlihat jelas, hindari zoom digital berlebihan, serta pastikan fokus berada pada subjek utama.
Jika memotret di dalam ruangan, pilih posisi dengan cahaya yang cukup. Untuk kegiatan yang melibatkan banyak gerakan, pastikan foto tidak buram dan momen penting tertangkap dengan baik.
4. Jaga keaslian dan etika dokumentasi
Foto berita harus menggambarkan kejadian yang benar-benar berlangsung. Pemotongan gambar dan koreksi warna secara wajar dapat dilakukan selama tidak mengubah makna foto. Hindari menambahkan atau menghapus objek penting maupun merekayasa kejadian menggunakan AI.
Saat memotret murid, perhatikan privasi dan ketentuan publikasi yang berlaku. Foto dokumentasi bukan hanya sarana menarik perhatian, tetapi juga bagian dari rekam jejak kegiatan lembaga.
5. Tulis caption dan simpan arsip secara teratur
Lengkapi foto dengan keterangan yang akurat mengenai kegiatan, lokasi, waktu, dan orang yang ditampilkan jika identitasnya telah terverifikasi. Gunakan nama berkas yang mudah dicari, misalnya "MIN4Tebo_Pembelajaran_IPAS_20261026_01.jpg".
Sebelum mengunggah foto, pilih gambar yang tajam, relevan, dan mewakili kegiatan. Simpan dokumentasi dalam folder yang terstruktur serta atur aksesnya, terutama untuk foto yang menampilkan peserta didik.
Peningkatan kualitas fotografi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: merencanakan momen, mengambil sudut yang bervariasi, memeriksa kualitas gambar, dan menulis keterangan yang benar. Foto yang berdampak bukan semata-mata foto yang terlihat menarik, melainkan foto yang menyampaikan informasi secara jelas dan tetap sesuai fakta.
Pembahasan lebih lanjut dapat disimak melalui video HUMAS LEVEL UP 2 “Fotografi Berdampak!” di kanal PINTAR Kemenag: https://www.youtube.com/live/TdxZPaZlGLc
*Bass
|
122x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...