
Senin, 06 Oktober 2025
Rimbo Bujang (MIN 4 TEBO) – Usai upacara tampak di sisi lapangan beberapa siswa berdiri rapi di barisan khusus. Mereka datang terlambat, dan seperti biasa, seorang guru menghampiri dengan membawa buku hitam besar di tangannya. Tidak ada suara marah, tidak ada nada tinggi—yang terdengar justru percakapan singkat penuh makna antara pendidik dan peserta didiknya.
Buku hitam itu bukan alat untuk menakut-nakuti, melainkan sarana pembinaan yang humanis. Setiap keterlambatan dicatat disertai alasan, alamat, dan waktu kedatangan. Dari catatan sederhana itulah guru bisa memahami kondisi masing-masing anak, mencari tahu penyebab, dan menindaklanjuti dengan cara yang bijak. Pendekatan personal ini menjadikan kedisiplinan bukan paksaan, melainkan kesadaran.
Setelah mencatat, guru memberi arahan singkat—kadang berupa motivasi, kadang hanya senyum dan pengingat lembut. Siswa kemudian diarahkan untuk tetap mengikuti kegiatan lain setelah upacara agar tidak tertinggal dari teman-temannya. Semua berlangsung tanpa teguran keras, menunjukkan bahwa disiplin dapat ditegakkan dengan kasih dan keteladanan.
Kegiatan ini telah menjadi rutinitas setiap Senin pagi di MIN 4 Tebo. Jumlah siswa yang terlambat terus menurun dari waktu ke waktu. Hal itu menunjukkan keberhasilan pendekatan yang menekankan tanggung jawab pribadi dan peran aktif guru dalam membimbing. Kedisiplinan lahir bukan dari takut, melainkan dari rasa dihargai dan diperhatikan.
Kini, buku hitam itu menjadi simbol pembelajaran karakter di madrasah. Setiap halaman yang terisi bukan tanda kesalahan, melainkan bagian dari proses menjadi lebih baik. Dari sudut lapangan itu, tampak jelas bahwa di MIN 4 Tebo, disiplin tidak berhenti di catatan, tetapi tumbuh dari sapaan hangat seorang guru kepada muridnya.
*Bass
|
44x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...