
Minggu, 19 Oktober 2025
Rimbo Bujang (MIN 4 TEBO) – Tampil membacakan puisi di ratusan pasang mata dalam acara perpisahan Mahasiswa PPLK IAI Yasni Bungo beberapa waktu lalu, Khanza—seorang siswa MIN 4 Tebo—menunjukkan keberanian yang mengesankan. Suaranya jelas, ekspresinya terkendali, dan kepercayaan dirinya seolah milik seorang pembaca puisi berpengalaman. Namun, sikap itu tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kesabaran, latihan berulang, dan kesempatan yang terus diberikan oleh guru di kelas.
Bagi banyak anak, berdiri di depan umum adalah tantangan besar. Rasa gugup, takut salah, atau khawatir dinilai kerap menjadi penghalang. Di MIN 4 Tebo, guru tidak menunggu siswa “siap sendiri”, melainkan secara aktif menciptakan ruang aman bagi mereka untuk mencoba—mulai dari membaca di depan teman sebangku, lalu di depan kelompok kecil, hingga akhirnya tampil di forum yang lebih luas. Setiap anak diberi giliran yang sama, tanpa memandang latar belakang kemampuan awal.
Khanza sendiri bukan siswa yang sejak awal berani tampil. Ia pernah diam saat diminta membaca, bahkan menunduk saat dipanggil namanya. Namun, dengan dorongan konsisten dan umpan balik yang membangun—bukan kritik yang menghakimi—ia perlahan mulai membuka diri. Latihan tidak dilakukan dalam satu hari, melainkan terintegrasi dalam rutinitas kelas: presentasi buku, bercerita pengalaman liburan, atau sekadar memimpin doa pagi. Semua itu menjadi batu loncatan menuju momen tampil di acara resmi.
Peran orang tua di rumah juga menjadi penopang penting. Dukungan, apresiasi atas usaha kecil, dan kebiasaan berdialog di rumah turut membentuk fondasi rasa aman yang memungkinkan anak berani mengambil risiko. Di madrasah, guru menjadi katalis utama yang mengubah potensi menjadi tindakan nyata—dengan keyakinan bahwa setiap anak mampu, asal diberi waktu dan kesempatan yang cukup.
Di balik penampilannya yang mmukau, terdapat prinsip pendidikan yang dipegang MIN 4 Tebo: kepercayaan diri bukan bakat, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Tidak instan, tidak ajaib, tapi tumbuh dari konsistensi, kepercayaan, dan ruang untuk jatuh bangun. Dan justru dalam proses itulah, nilai sejati dari pendidikan karakter terbentuk—bukan pada saat anak menang, tetapi ketika ia berani mencoba untuk pertama kalinya.
*Bass
|
48x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tebo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...